Monolog Inggit: “Mereka Tak Tahu Siapa Saya” [2]

Tari Adat Seusai Monolog Inggit di makam Inggit Garnasih.

Tari Adat Seusai Monolog Inggit di makam Inggit Garnasih.

Saya pikir, setelah selesai kegiatan Mieling Inggit Garnasih Ka-127 di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih[i], saya akan kembali ke kampus mengurusi beberapa hal yang perlu dikerjakan di sana. Begitu pula dengan Pak Mif, yang juga berpikiran sama dengan saya. Maka, saya bilang pada beliau bahwa saya akan ikut nebeng ke kampus menggunakan motor beliau.

Ternyata, Teh Cici mengajak saya dan Pak Mif untuk berziarah dulu ke makam Ibu Inggit. Yah, karena kami memang sedang mieling beliau, maka ziarah pun harus dilakukan sebagai salah satu acara penting, yaitu mengantarkan do’a. Sebelum berangkat, kami kembali menuju Kabuyutan Braga untuk menyimpan beberapa barang dan menitipkan motor Pak Mif di sana. Kang Tubagus Adhi[ii], yang tadinya tidak mau ikut, akhirnya ikut juga menziarahi makam Ibu Inggit. Kami semua tidak tahu bahwa perjalanan yang direncanakan sebentar itu, akan memakan waktu hingga sore hari.

Setibanya di makam, kami melihat banyak orang berada di sana. Kang Tubagus Adhi mengira bahwa orang-orang yang ikut acara mieling di rumah Inggit Garnasih sudah duluan menziarahi Ibu Inggit. Saya pikir baguslah kalau memang begitu, artinya acara mieling itu berbekas di dalam hati dan pikiran para apresiator di sana. Ternyata, setelah saya memasuki wilayah makam itu, satu persatu saya lihat wajah mereka yang berada di sana, dan saya tidak mengenali satu pun orang-orang yang hadir di rumah Inggit Garnasih. Mereka orang-orang yang berbeda. Itu berarti, di makam itu juga ada orang-orang yang mengadakan acara serupa Mieling Inggit Garnasih.

Makam Inggit Ganasih dibuat seperti rumah yang dibagi menjadi empat bagian atau empat kuadran. Dilihat dari pintu masuknya, makam Inggit berada di bagian kiri atas, di bagian kanan atas terdapat sebuah ruangan luas untuk lesehan, begitu pula di bagian kiri bawah. Di depan pintu masuk terdapat seperti beranda dengan sebuah tempat duduk panggung di atasnya. Jangan bayangkan pintu masuknya seperti sebuah pintu atau gerbang atau pagar, karena pada dasarnya keseluruhan bangunan di atas makam Inggit itu lebih seperti sebuah pendopo dengan empat bagian ruang[iii].

Nah, pada saat saya memasuki pintu makam, saya melihat di dekat makam Inggit terdapat seorang ibu menggunakan kebaya putih nampak sedang dirapal oleh seorang bapak – mungkin budayawan atau seorang pemangku adat setempat[iv]. Di ruang kanan atas, terdapat orang-orang yang duduk lesehan menggunakan pangsi dan iket, sebagian di antaranya memainkan kacapi, suling, dan rebab. Di bagian kiri bawah, terdapat ibu-ibu yang duduk lesehan juga memperhatikan upacara adat yang berlangsung, mengelilingi tumpeng. Di depan pintu masuk, di atas beranda panggung, sepertinya duduk para pemangku jabatan, pemangku adat, dan seorang Bondan Winarno[v].

Upacara adat itu berlangsung sebentar, kemudian pengatur acara di sana mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam ruang makam dan berziarah. Saat memasuki ruang makam, saya melihat di sebelah kanan makam terdapat meja dengan foto Inggit Garnasih dan berbagai perlengkapan upacara adat. Saya sendiri tak sempat memikirkan untuk apa itu semua berada di sana.

Seusai berziarah, kami pamit pada orang-orang yang berada di sana untuk langsung pulang. Ternyata pengatur acara malah mempersilahkan kami untuk mencicipi tumpeng terlebih dahulu[vi]. Pak Mif menolak dengan halus bahwa kami sudah kenyang, karena baru saja selesai acara di rumah Inggit Garnasih. Pengatur acara yang heran meminta penjelasan lebih lanjut. Pak Mif memaparkan bahwa di rumah Inggit ada acara Mieling Inggit Garnasih Ka-127, diisi acara Monolog Inggit yang diperankan Teh Cici dan diskusi. Pengatur acara yang terkejut segera menyambut, “Kalau di rumah Inggit ada monolog, di sini juga harus ada monolog.” Kami semua langsung melirik pada Teh Cici yang juga terkejut mendengar itu. Saya sendiri khawatir sekaligus menerka-nerka, kalau Teh Cici betul-betul akan monolog lagi, bagian mana yang akan dipotong. Atau jangan-jangan seluruh monolog ditampilkan?

Akhirnya saya tahu, sejak awal beliau memang akan menampilkan seluruh monolog di sana. Jangankan saya, suami Teh Cici, Kang Adhi, Pak Mif, dan Teh Erline, yang terkejut dengan seluruh peristiwa ini, Teh Cici sendiri pun tidak bisa berkata apa-apa saat akan menampilkan monolog. Apa yang dikatakannya sebagai pembuka monolog, nampak sedikit meragukan. Mungkin ada perasaan takut dan cemas menampilkan Monolog Inggit langsung di depan makam beliau[vii].

Maka, berlangsunglah monolog itu selama 45 menit. Tiap detik saya rasakan kecemasan dan ketakutan yang dialami Teh Cici selama bermonolog. Tidak seperti yang terjadi di rumah Inggit Garnasih, monolog di makam Inggit Garnasih rasanya lebih mencekam. Entah karena suasana kuburan yang di-branding oleh para media menjadi nampak mencekam, atau memang karena kondisi lain yang tidak dapat saya raba dan lihat. Tentu saja, isi monolog itu tetap sama, menceritakan kisah perjuangan Inggit.

Yah, usai monolog, saya bisa melihat kelelahan luar biasa yang dialami Teh Cici. Saya tahu, mungkin bukan hanya kelelahan secara kognisi dalam mengingat teks monolog, secara emosi dalam mengungkapkan isi hati seorang Inggit, dan secara fisik dalam memerankan gestur wanita Banjaran itu, tetapi juga secara spiritual. Teh Cici yang kelelahan, langsung masuk ke ruang kanan atas dan meminta minum pada panitia di sana. Tak disangka, orang-orang yang berada di sana menciumi tangan Teh Cici seusai melepaskan dahaga. Nyatalah sudah kekhawatiran kami semua.

Acara kemudian dilanjutkan dengan upacara adat yang sempat tertunda karena ziarah kami dan monolog. Sambil menunggu Teh Cici yang beristirahat, kami mengapresiasi acara ini. Seorang laki-laki dan perempuan keluar dari ruang kanan atas sambil membawa sebuah kain. Gerakannya lambat dan gemulai. Mereka melanjutkan dengan tari-tarian di sekitar makam selama kurang lebih satu jam. Saya tidak mengerti kenapa harus ada tari-tarian di sebuah makam, terlebih makam Inggit Garnasih. Pertanyaan ini masih bersemayam dalam kepala saya hingga sekarang.

Seusai acara tarian, kami semua mohon diri untuk pulang, karena hari sudah sore dan hujan gerimis pun masih belum berhenti. Di perjalanan pulang, Teh Cici mengatakan memang sudah seharusnya kami berziarah ke sana dan melihat berbagai peristiwa yang terjadi di sana. “Mereka tidak tahu siapa saya,” kata Teh Cici menirukan gaya bicara Inggit Garnasih, “begitu kata Ibu.” Inggit Garnasih tidak suka dikultuskan, apalagi dianggap sebagai orang suci. Yang harus diabadikan adalah semangatnya, spiritnya, daya juangnya, bukan mensucikan orangnya.

 

Bandung, 2 Maret 2015


[i] Lihat esai Monolog Inggit: “Mereka Tak Tahu Siapa Saya” [1]

[ii] Beliau pernah menjadi narasumber di Asian-African Reading Club [AARC]. Lihat esai Kenapa Bandung?

[iii] Saya pernah mendengar sebuah hadist Nabi yang mengatakan bahwa dilarang membangun bangunan di atas sebuah makam. Harus diakui, kini banyak sekali makam seseorang yang dianggap suci, atau memiliki kehormatan tertentu, dibangunkan sebuah bangunan di atasnya, seperti bentuk pendopo atau bahkan sebuah masjid. Saya memperhatikan bahwa di atas makam para Nabi sendiri pun dibangun sebuah masjid, misalnya Masjid Nabawi. Entah pendapat mana yang benar, apakah boleh atau tidak membangun bangunan di atas sebuah makam, perlu kajian lebih mendalam mengenai ini.

[iv] Belakangan, saya diberitahu Teh Cici bahwa itu adalah upacara adat untuk mengangkat seorang Teteh Bandung menjadi Indung Bandung. Silahkan koreksi jika salah. Pertanyaan yang muncul di benak saya, kenapa harus dilakukan di sebuah makam?

[v] Saya sendiri heran di acara dan tempat seperti itu ada seorang Bondan Winarno. Belakangan, saya tahu dari Teh Cici bahwa beliau punya sebuah restoran di Jalan Braga no 45.

[vi] Sambil membuka jamuan tumpen, Bondan Winarno menjelaskan bahwa tumpeng memiliki filosofi. Seluruh tumpeng itu adalah dunia yang kemudian meruncing terus hingga ke atas, ke Sang Pencipta. Oleh karena itu, janganlah memotong tumpeng dari ujung atasnya, karena itu artinya kita memotong Sang Pencipta. Potonglah dari pinggir tumpeng. Saya akhirnya mengerti bahwa jangan memotong bagian atas [Sang Pencipta] berarti membiarkan Sang Pencipta melebur dengan sendirinya di dalam diri makhluk-makhluk-Nya – Manunggaling Kawula Gusti.

[vii] Khawatir bahwa monolog itu kemudian berbuntut panjang sebagai sebuah pengkultusan atas diri Inggit Garnasih.

Foto: Tubagus Adhi

Iklan

7 pemikiran pada “Monolog Inggit: “Mereka Tak Tahu Siapa Saya” [2]

  1. Reblogged this on apibandung and commented:
    Monolog Inggit menjadi salah satu upaya mengenalkan kembali Inggit Garnasih kepada masyarakat. Sejarah telah melupakan salah satu pahlawan tanpa tanda jasa yang telah membentuk seorang proklamator dan negarawan-negarawan pejuang bangsa ini. Api Bandung berupaya menyebarkan semangat itu dimulai dari Bandung, kota pusat pergerakan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s